Jumat, 22 Februari 2008

Sulitnya Memberantas Kolusi

Untuk melakukan sesuatu atau melancarkan urusan memang biasanya menggunakan uang sebagai pelancar segala urusan dunia.

Senin, 26 November 2007

Mohon Izin Mengingatkan Kepada Dinas Pariwisata Subang

Kebudayaan Indondesia akhir-akhir ini mulai dicuri oleh negara lain. Kekhawatiran terhadap kebudayaan yang nantinya diklaim oleh negara lain ini nantinya akan berdampak pada ketidakpercaya dirian Indonesia dalam menampilkan budayanya ke pentas dunia. Sudah berapa banyak hasil karya bangsa Indonesia yang diklaim oleh negara lain, mulai dari tempe, batik, rego ponorogo, lagu-lagu daerah, dll.

Dari sini saya merasa khawatir apabila Sisingaan yang merupakan kebudayaan ciri khas kabupaten Subang dicuri juga oleh negara lain. Sebaiknya pemerintah kabupaten Subang segera memikirkan hal ini supaya kabupaten ini memiliki ciri yang unik. Jika Sisingaan diambil dan didaftarkan trade marknya di UNICEF, maka Subang sudah kehilangan budaya nenek moyangnya.

Sebagai generasi muda, sangat menyesalkan jika kampung saya kebudayaannya dijajah bangsa lain. Ingat, walaupun Subang ini merupakan kota yang terpuruk bagi saya tetaplah kampung halaman yang selallu jadi pilihan jika mau mudik. Masih teringat waktu masih kecil, teman-teman yang akan disunat (dipotong kemaluannya, red) digotong naik Sisingaan keliling desa. Wah asyiknya melihat budaya kampung sendiri, hanya di kampung halaman saja bisa melihat Sisingaan ini.

Kepada Dinas Pariwisata Subang, saat ini bisnis Sisingaan nampaknya sedang terpuruk dan bahkan mungkin hampir punah. Jika tidak dibudidayakan maka Sisingaan ini akan menjadi budaya yang langka. Segera akui bahwa Sisingaan ini dari daerah Jawa Barat. Jangan biarkan penjajah budaya mengambil kebudayaan kita setelah kitab pusaka Sunda dijajah oleh Walanda di zaman dahulu kala. Segera buatkan literatur mengenai kebudayaan ini.

Maafkan jika saya salah dalam berkata-kata dalam tulisan ini. Namun demi kemajuan kampung halamanku sebaiknya kita sebagai urang Subang segera bertindak. Jangan seperti di Ponorogo yang sekarang sedang kebingungan kebudayaannya dicuri orang. Peace and keep love to me..

Selasa, 23 Oktober 2007

Pendidikan yang Mesti Diutamakan

Minat untuk belajar bagi masyarakat kampung jauh berbeda dengan masyarakat kota pada umumnya. Di kampung anak perempuan berumur 13 tahun sudah bersedia dilamar oleh laki-laki karena kesulitan ekonomi orang tuanya. Begitu juga kesulitan ekonomi yang menjadi peretak hubungan antara sekolah dengan tempat tinggal. Sekolahan di kampung yang walaupun membludak oleh murid-muridnya, namun para guru harus ekstra bekerja keras untuk memberikan semangat agar mereka belajar dengan giat agar bisa lulus dari UAN (Ujian Akhir Nasional). Tak sedikit siswa yang harus melaksanakan ujian ulang agar bisa lulus dari Sekolah. Begitu juga banyak guru sekolah kampung ini yang berteriak agar nilai standar nasional dikurangi mengingat kemampuan para muridnya yang dibawah standar nasional ini.

Maaf mungkin agak acak-acakan....

Sebuah instansi pendidikan di Bandung melirik keadaan pendidikan di Kabupaten Subang. Potensi siswanya luar biasa dan mampu dijadikan standar nasional (itu bagi siswa yang berkemampuan di kota Subang). Mereka melihat bahwa potensi ini harus dikembangkan agar kemajuan Subang bisa direalisasikan. Namun tak lama kemudian gaung ini terasa menghilang dan mungkin sedang melakukan perencanaan bawah tanah untuk tiba-tiba Subang bisa menjadi maju. Ini sangat diharapkan walaupun dari underground yang penting tidak menyimpang dari kebaikan (wallahu'alam bishshowab). Sebuah sekolah unggulan di Subang yang diperhatikan saat ini menjad museum yang bisa dilihat masa jayanya beberapa tahun lalu. Beradasarkan sumber yang pernah terjun langsung membantu pengembangan ini, saat itu (masa lampau) sekolah ini menjadi lebih unggul dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi dengan menghasilkan teknologi tempe (semoga trade marknya ga dicuri orang malay). Sungguh teknologi yang mencengangkan dan sangat bagus untuk bisa dijadikan teladan.

Salah satu sekolah yang paling lama di dekat kampung Cinungku adalah SLTPN 1 Jalancagak. Dimana lulusan sekolah ini ada pejabatnya dan bahkan orang nomor satu di Subang ini adalah lulusan dari SMPN Jalancagak. Sekolah ini tak terlihat dari jalan oleh orang biasa, hanya orang yang bertekad untuk sekolah saja yang bisa melihatnya dengan mata telanjang. Sekolah ini mampu menghasilkan seorang pejabat sampai seorang keparat. Sekolah ini sudah beberapa kali mendapat perhatian dari pejabat terkait. Namun perhatian pejabat ini hanya mengucurkan dana zakat 2,5% dari pendapatannya untuk diberikan ke sekolah almamaternya. Padahal perhatian terhadap pendidikan harusnya lebih besar dari dana yang mengalir ka rekeningnya. Coba perhatikan, apa sih yang pejabat Subang lakukan agar subang minimal bisa lebih maju sedikit dari tahun 1990 saat penulis masih SD kelas 1?? Rasanya penulis seperti di dunia mimpi dan selalu de javu pada saat pulang ke rumah dari sekolah ataupun dari kampus. Yang ditemui pasti bangunan ini dan keadaannya seperti ini. tak ada yang berubah. layaknya seorang akademisi, pejabat pemerintah harusnya berani mengeluarkan dana untuk membangun sekolah tertua di Jalancagak ini.

Mengapa harus diperhatikan? Karena Cinungku dan sekitarnya akan menjadi penghasil penjahat terbesar jika pendidikan tidak diperhatikan. Kebanyakan masyarakat Cinungku bersekolah di sekolah SLTPN 1 Jalancagak, belum ongkosnya yang lumayan mahal. Kayaknya di masa yang akan datang, Subang akan menjadi pemasok penjahat yang luar biasa jika kualitas pendidikannya diabaikan.

Maaf belum diedit lagi. Mohon sudi kiranya para pejabat yang bertetanggaan dengan kampung saya tidak mengerahkan pamong praja ke kampung saya untuk mengedit tulisan saya. Demikian harap dijadikan permakluman... hehehe... peace man!

Potensi Cinungku

Cinungku yang berada di kaki Gunung Tangkuban Perahu ini menarik ditawarkan bagi orang yang ingin menenangkan dirinya dan berpetualang memasuki hutan dan sungai yang masih jernih airnya. Begitu juga dengan potensi sumberdaya alam padi, bawang, cabai, dll. Begitu juga terdapat tempat penggilingan padi menjadi beras yang dinamakan (huller) dan ternak ayam yang seharusnya bisa dimanfaatkan. Hanya saja butuh bantuan dan modal yang cukup untuk membangunnya. Keyakinan ini muncul dari fasilitas kampung yang mampu menghasilkan sumberdaya alam yang berlimpah ruah ini.

Tak jarang ekspor manusiapun terjadi dari Kampung ini. Tenaga kerja wanita dipasarkan dari Kampung ini dan terkenal dengan kejujurannya. Banyak orang yang mencari pembantu untuk dipekerjakan di rumah-rumah elit mereka dan mereka merasa puas dengan pelayanannya. Orang yang lugu, ramah, dan dapat dipercaya dihasilkan dari kampung ini. Tak jarang orang pula seorang penipu ulung dengan kecerdasan luar biasa dihasilkan pula dari Cinungku ini. Namun bagaimanapun kita lihat dari sisi positifnya saja agar tidak menimbulkan interpretasi yang bermacam-macam.

Keadaan dan modal awal yang sudah tersedia ini bisa dimanfaatkan oleh mereka yang menginginkan kerja sama yang baik. Bisa mengerti keadaan dan bersedia memantau kampung ini sangat diharapkan bagi pemilik modal awal ini. Mereka yang bersedia meraih keuntungan tanpa meninggalkan kotoran yang merusak kampung ini. Sah sah saja bagi mereka yang dengan ketulusan hati dan kerendahan jiwa mau membantu kami untuk membangun potensi sumberdaya alam untuk menjadi potensi ekonomi. Kami siap membantu para pemilik modal ini dengan senang hati dan riang gembira. Bisa dilihat di kampung kami keadaan sebuah huller padi yang diam tak bergerak dan para pekerjanya kebingungan mencari makan di lumbung padi ini. Mengherankan, padahal potensi yang baik ini bisa dimaksimalkan agar kehidupan Cinungku bisa lebih baik lagi.

Aset Kabupaten Subang

Cinungku merupakan sebuah kampung yang terletak di Desa Palasari Kecamatan Jalancagak Kabupaten Subang Provinsi Jawa Barat Negara Republik Indonesia. Daerah ini cukup terisolir dengan fasilitas perhubungan yang relatif kurang baik. Jalan yang menghubungkan antara Pasar Jumat Palasari atau Pasar Selasa - Sabtu Jalancagak rusak berat. Hanya alat transportasi off road saja yang bisa menjangkaunya. Tragis sekali memang, dengan jangkauan yang begitu dekat dengan Kecamatan malah tidak dapat dijangkau dengan transportasi yang memadai.

Namun dibalik kesulitan transportasi tidak mematahkan semangat untuk membangun Cinungku ini. Pemerintah pun sedikitnya memberikan perhatian terhadap masyrakatnya. Terbukti dengan adanya bantuan untuk memelihara Sapi perah membuat masyarakat Cinungku terbakar semangatnya untuk berkompetisi dalam memelihara Sapi ini. Hampir seluruh masyarakat yang tidak memiliki pekerjaan ini memelihara Sapi perah untuk dijadikan mata pencaharian mereka. Tak jarang mereka rela untuk tidur bersama Sapi perah ini agar tak ada orang yang mencuri Sapi mereka.

Lucunya kampung Cinungku ini tidak dimanfaatkan berkah padinya untuk swasembada beras di Kabupaten Subang ini. Bahkan nampaknya petani padi kesulitan untuk menjual hasil panennya. Para tengkulak beras menekan harga kepada petani sehingga biaya produksi lebih besar daripada harga jual. Sungguh mengherankan, pemerintah seolah tak punya kepedulian terhadap petani yang ada di daerah terpencil ini. Yang mengherankan lagi, bupati Subang kang Eep, rumahnya tak jauh dari Kampung Cinungku ini. Namun nampaknya beliau tak peduli terhadap kampung di sekitarnya yang kesulitan memasarkan hasil sumberdaya alamnya ini. Coba kalau sang bupati bisa berkunjung ke kampung-kampung sekitarnya setidaknya bisa memberikan perhatian terhadap rakyat yang dipimpinnya ini.

Seorang saudara jauh menyatakan bahwa kesulitan bantuan ke pedesaan yang ada di Kabupaten Subang ini dikarenakan unsur manusia yang tidak jujur. Walaupun muka mereka tampak bodoh, lugu, dan dapat dipercaya namun saluran bantuan yang dipercayakan kepada mereka tidak tersampaikan. Oleh karena itu beliu merasa kesulitan untuk mencari orang yang dapat dipercaya untuk menyalurkan bantuan bagi para petani.

Walaupun begitu peliknya kehidupan ini, nampaknya kampung cinungku ini tetap tegar dan bersemangat dalam menjalani kehidupan. Buktinya masih banyak orang tua yang berumur 60 tahun ke atas yang masih tertawa dengan riang tanpa tekanan hidup seperti di kota besar. Kampungku Cinungku, kampung yang bisa membawa kedamaian di saat kepenatan kota yang hiruk pikuk ditinggalkan.